Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Hening Bersamamu #PersembahanUntukDia

15.39 0

Apakah kau tahu?

Entah sejak kapan, aku kini selalu tak sabar menanti pagi setiap malam telah tiba.

Menanti saat aku melangkah keluar rumah, lalu bertemu denganmu sekali lagi, untuk hari ini.

Sebab, waktu-waktu bersamamu adalah sebuah anugerah bagiku. Selagi lembaran masih mampu mengukir kisah tentang aku dan kamu.

Jawaban dari Pertanyaan yang Tak Terjawab

15.39 0


Kita adalah kumpulan dari rasa perih dan sakit yang dulu ditakuti, kumpulan dari segala kesepian mati-matian selalu coba dihindari. 

Tapi saat sabar meminta masa menahbiskan bahwa semuanya telah terlalui, justru itulah yang kini menjadi alasan kita dapat kokoh berdiri.

Kita adalah hasil nyata dari kayuhan-kayuhan doa khusyu, tanpa jemu, yang terus membawa diri menembus kemustahilan. Hingga akhirnya mempertemukan semua ini tepat dalam satu kala.

Namun, jangan dulu jemawa. 

Mungkin bukan doa kita yang diijabah. Tetapi, bisa jadi dari doa mereka yang tak pernah kita sangka. Berbahagia dan bersyukurlah, masih ada yang hendak memberikan sejumput doanya untuk kita.

Kita adalah jawaban dari pertanyaan yang dulu tak pernah terjawab sama sekali.
Jawaban sebuah kebahagiaan hakiki, sebuah pengharapan menghamba pada Ilahi.

Bagi mereka yang sudah membesarkan diri ini, kita adalah jawaban dari kegelisahan yang merantai hati. Karena kita adalah tempat mereka mengikat semua harapan.

Dan kini, saat harus melepaskannya ke hati yang lain, mereka menemukan masing-masing dari kita sebagai jawaban.

Bagiku, kau adalah jawaban yang meyakinkanku untuk menempuh jalan baru. 

Meyakinkanku untuk mendatangi rumahmu.

Meyakinkanku yang masih bergemetar untuk meminta izin bunda dan ayahmu. 

Meyakinkanku bahwa kau orang yang tepat dijadikan sebagai teman saling berbagi sepanjang umurku.

Semoga kau pun begitu.

Karena kita adalah jawaban dari pertanyaan

yang (dulu) tak terjawab dalam benak kita sendiri.

-- Dalam doa, 24 Oktober 2016


Aku Tak Mau Hanya Menjadi Pelangi

14.51 0

Aku suka pelangi. Dan kau juga menyukainya. Kita berdua sering membuat janji bertemu di lapangan kecil itu selepas hujan, meninggalkan semua urusan perkara, hanya untuk melihat tujuh warna memanjang pengusir mendung yang sendu itu.

Karena warnanya yang indah, tak jarang kata pelangi terucap sebagai kiasan. Aku yakin demi menarik perhatianmu, pasti banyak lelaki yang mengatakan: 'Aku ingin menjadi pelangimu' atau 'Aku ingin kau menjadi pelangiku' kepadamu.

Meski aku suka pelangi, tapi aku tak ingin hanya menjadi pelangimu saja. Yang hanya muncul selepas hujan, namun hilang saat mentari kembali berdiri gagah.

Untukmu, aku akan menjadi semua yang ada di langit.


Aku akan menjadi mentari yang menghangatkanmu,
 
menjadi bulan yang akan menerangi jalanmu, 

menjadi hujan yang akan menghapus letih jiwamu,

dan tentu juga menjadi pelangi yang membangkitkanmu setelah mendung.


Aku tahu, tak mudah menjadi seperti itu. Tapi, untukmu yang amat baik dan hampir sempurna, tentu aku pun harus belajar menjadi baik.

Sebab untuk membangun sebuah hubungan membutuhkan dua orang yang solid, yang sama-sama baik.

'Find someone complimentary, not supplementary' (Oprah Winfrey)

Elegi Hujan

16.56 0

"Elegi Hujan"

Nun jauh di sana, kau takkan pernah paham, bahwa aku telah tenggelam dalam berbagai frasa yang tak pernah kau balas sepatah kata saja.

Lalu, hujan malam ini menemani diri mendeklamasikan sebuah elegi, yang terdengar syahdu dalam tiap derai dan melagu lembut menelisik hati yang tersedu.

Jangan. Jangan kalian larang aku mengenang kesenduan yang mungkin lain waktu akan kurindukan. Biarkan aku merasakannya seperti melahap suap demi suap nasi goreng yang penuh kenikmatan.

Perih, terima kasih untukmu karena telah berteman dengan sepi. Kalian bercengkrama ramah di sini, lalu meninggalkan secarik kertas bertuliskan puisi yang berkisah bahwa hati kan bertumbuh saat dirimu memutuskan melepas sauh.

Ya, mungkin dalam legam hitam malam, aku yang tak pernah berhenti mendamba harus lanjut melangkah dalam temaram, mencari secercah cahaya di luar sana.

Karena bisa saja lain waktu ku kembali lagi di hadapmu, kau mulai meragu dengan sikapmu dulu. Kala itu kan kubiarkan kau sendiri, sementara aku terus membangun hati.

Karena bisa saja di lain hari, saat matamu memutuskan menatapku lagi, aku berhasil mengikatkan diriku dalam larik-larik janjimu.

Dan menuliskannya lagi dalam lembar janjiku.

Tak ada salahnya bila harap ini tak kusudahi, bukan? Karena aku pun tak pernah melarangmu untuk berharap kepada siapapun.

???????

07.21 0

Siapalah saya, membahas tentang gambar ini.

Hujan yang merintik sepanjang malam ini jauh lebih pandai menjelaskannya. Tiap tetesnya membawakan rahmat dari-Nya yang dinanti manusia di bumi.

Ya... begitulah. Cinta itu menuntut segala sesuatu darimu. Waktu. Harta. Pikiranmu. Memutuskan mencintai, maka siap untuk mengorbankan itu semua.

Kamu mencintai profesimu, misal sebagai dokter. Kau rela belajar menghabiskan seumur hidupmu, memikirkan penatalaksanaan yang paling tepat dan efisien untuk pasien, dan kehilangan harta berhargamu: waktu.
Dan kau takkan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi.

Maka, jelas saya masih harus banyak belajar untuk mencintai. Kapan berhenti belajarnya? Kapan mulai mencintai?
Bukankah belajar mencintai adalah bagian dari mencintai? Belajar mencintai-Mu adalah pembelajaran yang tidak akan pernah habis. Mencintai keluarga tidak akan pernah surut oleh waktu. Tanggung jawab mencintai sebelah jiwa akan tiba kala separuh agama lain sudah bisa kau tunaikan dengan baik.

Memantaskan diri untuk mencintai sebenar-benarnya cinta.

#drwriter #islam #cinta #love #hidup