Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sarapan Pertama

16.21 1


"Seharusnya aku datang lebih awal," gumamku saat jarum jam masih menunjuk angka tujuh, namun kafe langganan sarapanku sudah berjubel ramai. Wajar saja, karena selain enak, makanan di sini pun terjangkau.

Sudah tiga menit aku duduk di satu-satunya meja yang tersisa saat itu, belum ada pelayan yang datang untuk mencatat pesanan meski sudah berulang kali aku melambaikan tangan. Aku enggan berteriak memanggil sebab tak ingin menjadi perhatian orang banyak karena suara cemprengku.

Saat hendak mengulangi lambaian ketiga kalinya, tiba-tiba seorang pria mendekatiku setelah sebelumnya ia sempat menoleh kiri-kanan.

"Maaf, boleh saya duduk di sini? Soalnya meja lain sudah penuh."

Aku mengangguk, mengiyakan tanpa bersuara. Meski sebenarnya enggan berbagi meja dengan orang yang tak kukenal. .

"Terima kasih." Pria itu tersenyum lega dan segera duduk serta meletakkan tasnya di samping kursi seberangku.

"Kamu belum pesan?" Aku menggeleng, lagi, tanpa suara.

"Mas! Mas!" Pria itu lantas melambaikan tangan dan berteriak kencang, mengundang perhatian para pengunjung kafe pagi itu. Sial. Aku buru-buru menunduk, menyembunyikan muka.

Tapi tak lama, seorang pelayan datang. "Mau pesan apa, mas dan mbak?"

"Nasi goreng seafood satu!"

Kami tiba-tiba saling bertatapan dengan mata membulat saat bersamaan mengucap pesanan yang sama. Pelayan tersebut tersenyum-senyum melihat kami berdua. .

"Oke. Lalu minumnya?" .

"Susu vanilla hangat satu!" .

Lagi-lagi sama! Ada apa dengan orang depanku ini? Si pelayan sempat tertawa kecil sebelum akhirnya pergi setelah mencatat pesanan.

"Kok kamu pesannya sama sih?" Tak tahan, aku pun menanyakannya.

"Kamu juga. Kok bisa sama?"

Sempat diam sejenak, kami pun tertawa kecil menanggapi peristiwa yang tak biasa itu.

"Namaku Satya. Kamu?"

"Aku Kara."

Tepat hari Senin, empat tahun lalu, itulah pertemuan pertamaku dengan Satya, yang kini sudah menjadi bapak dari dua anak tercinta kami.

Seberang Jalan

Seberang Jalan

07.58 2
Seberang Jalan

       Siang itu berbeda dengan siang kemarin-kemarin. Matahari bersinar gagah diantara kumpulan awan yang berarak di langit biru. Padahal kemarin, sang surya seperti malas berdiri gagah karena mendung lebih banyak menampakkan diri di pelataran langit. Sudah jelas, siang ini panas. Tak terhitung berapa kali aku menyeka dahi yang basah oleh keringat. Sepelemparan batu depanku, mobil-mobil dan motor-motor berlalu-lalang melintasi jalan kota ini. 
       Namaku Dana. Dana Riza Anantyo. Aku melihat lagi ponselku. Tak ada pesan masuk, ataupun missed call. Jam di ponsel menunjukkan angka 14.45. Sebentar lagi waktu Ashar, dan setelah itu aku akan pergi meninggalkan kota ini. Memang aku hanya sejenak disini, untuk menyelesaikan sedikit urusan demi stand kecil-kecilan milikku dan temanku di dekat kampusku, Kedokteran Unsoed Purwokerto. Aku kesini membeli sebuah pan penggorengan, yang empat hari terakhir kami butuhkan karena banyaknya pesanan Takoyaki, makanan khas Jepang yang kami jual.